Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 27 Februari 2015

Pedang Dua Elemen

Mental ku turun ketika sedang dalam kondisi yang sangat penting. Ragu-ragu, takut salah, malu. Rasa itu selalu datang di waktu yang tepat. Dan kecewa selalu datang ketika gagal karena mentalku yang buruk..

Saat itu aku duduk di bawah pohon merenungkan yang telah terjadi tadi... sesekali aku melihat burung yang sedang membuat lubang di pohon dengan paruhnya yang tajam dan kuat itu... Di perjalanan pulang aku mampir sebentar di tukang pandai besi, tempat mamang ku bekerja. Melihat wajah ku yang lesu, dia menanyai ku apa yang telah terjadi.

Setelah mendengar cerita ku, ia menyuruh ku untuk mengambil sebuah pedang di atas meja. Dia menyuruh ku untuk memotong besi bulat se ukuran kelingking menggunakan pedang itu. Aku menanyakan untuk apa aku melakukan itu. Dia menjawab "Lakukan Saja".

Pedangnya patah setelah aku melakukannya, tapi mamang ku tidak marah seakan dia tahu yang akan terjadi pada pedang  ini. Ia menyuruh ku melakukannya dengan menggunakan pedang yang lain. Pedang nya sama persis tapi sedikit lebih berat. Kali ini pedangnya tidak patah malahan besi nya yang patah.

Mamang ku menjelaskan kenapa pedang yang pertama patah tapi yang kedua tidak. Bukan karena pedang yang kedua lebih berat katanya. Melainkan karena pedang yang kedua di buat dari dua elemen. Lapisan pertama yang paling depan untuk mata pedang adalah elemen yang keras, sementara elemen kedua berada di belakang yaitu elemen lunak, yang berfungsi sebagai penopang elemen pertama. Makanya pedang pertama patah karena hanya menggunakan satu elemen yaitu elemen keras. Pedang yang kedua ini bagaikan gigi dan gusi manusia. Gigi sebagai elemen keras di letakan di depan sebagai alat tempur, sedangkan gusi nya sebagai penopang gigi agar tidak rusak.
"seperti paruh burung juga mang?" pertanyaan ku menyelah penjelasannya. Mamang ku membenarkan peryataan ku tadi.

Tanpa ku sadari aku menemukan jawaban dari dua buah pedang dan seekor burung yang sedang membuat lubang itu...Aku tahu mengapa paruhnya itu begitu kuat untuk bisa melubangi pohon yang begitu keras . Dan aku yakin mental ku kini tidak akan pernah turun lagi, karena aku kini aku telah menemukan penopang mental ku, yang mungkin tidak akan pernah diketahui oleh orang lain.

2 komentar: