Ketika dokter meyakinkan ku tentang umur ku yang tak akan lama maksimal tiga hari, aku masih tidak percaya. Aku tidak percaya bahwa Tuhan masih memberi ku kesempatan hidup dengan kondisi ku yang sekarang mengidap penyakit HIV AIDS. Pikir ku "mungkin Tuhan ingin memberi ku waktu untuk memperbaiki sedikit perjalanan hidup ku yang sungguh menyedihkan. Dan membuat akhir dari perjalanan hidup ku menjadi lebih baik."
Satu jam pertama aku habiskan dengan duduk terdiam memikirkan apa yang akan saya lakukan sekarang. Tidak ada keluarga, bahkan teman pun aku tak punya. Hanya ada seorang anak remaja yang profesi nya sama dengan ku, membawa ku ke RS ketika aku pingsan di pinggir jalan, ku panggil dia 'BOY'. Dia adalah sahabat ku sedari SMP, sebelum keluargaku meninggal karena penyakit HIV AIDS.
Ku minta Boy untuk meninggalkan ku dan kembali ke keluarga nya. Tapi dia hanya diam saja, tatapan nya seakan sangat membenci diriku.
Boy: "apa kamu merasa kesakitan?"
Aku: "tidak"
Boy: "lalu kenapa masih disini?"
Aku: "lalu aku harus apa?"
Boy: "mati aja sana!"
Itu adalah kalimat terakhir yang ku dengar dari sahabatku BOY. Setelah itu dia meninggalkanku sendirian. Aku ingin berterima kasih kepada Tuhan, tapi aku tak tahu cara melakukannya. Walaupun pernah menginjak tanah SMP, aku masih tak mengerti tentang agama. Tapi aku mengerti satu dalam agama yaitu ikhlas.
Dua jam ku sudah hilang. Walaupun aku tau Tuhan masih memberi ku kesempatan ini, tapi aku tidak mengerti harus berbuat apa dan di mulai dari mana. Kesempatan ini begitu sulit ku lakukan. Tiga hari ini terasa seperti tiga tahun bagiku saat itu. Dari RS sekarang aku di terminal tempat biasa aku kerja sebagai pencopet. Sempat terpikir oleh ku untuk melakukan pekerjaan ini sebagai yang terakhir.
Akhirnya aku memilih untuk melakukannya!! Walaupun terasa tidak benar!! Tapi aku tidak punya pilihan lain karena lapar nya perutku. Dan hanya itu yang bisa aku lakukan, walaupun Tuhan memberi akal pikiran, tapi Tuhan tidak memberi ku satu yaitu cara menggunakan akal pikiran. Lumayan banyak uang yang ada di dompet itu. Pastinya lebih dari cukup kalau hanya untuk makan tiga hari.
Ku lihat sahabatku Boy sedang duduk di warung makan. Ku hampiri dia dan aku pun memesan makan. "kamu kenapa Boy?" pertanyaan ku di acuh kan mentah - mentah. "hei Boy, walaupun kamu tak mau bicara denganku, tapi aku mau mendengar permintaan ku ini. Kalau nanti, bukan nanti saat besok lusa aku mati, aku minta kau untuk membakarkan mayat ku, oke!!. Dan buanglah abu nya nanti di bawah pohon agar menjadi pupuk, walau pun abu panas ini mungkin akan membunuh pohon itu, tapi aku yakin kamu bisa memanfaatkan akal pikiranmu yang di berikan Tuhan untuk membuat pohon itu tidak mati. Buat dirimu nyaman Boy!!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar