Saat itu saya meminta uang sebelum berangkat ke sekolah, tapi ibuku tidak memberikan sehingga aku tidak mau berangkat sekolah. Ibuku malah memukul ku keras di kepala. Ku tatap mata ibuku, dan aku berlari keluar dari rumah dengan harapan tidak ingin kembali lagi ke rumah. Ku lewati setengah hari dengan berjalan menjauh dari rumah. Dan berhenti di seberang rumah makan. Kemudian aku masuk dan bertanya pada penjual nya, "apakah saya bisa menukar sepatu saya dengan makan?". tidak bisa dik, tapi adik cantik boleh makan gratis disini.
Tak lama penjual membawakan makanan untuk saya. Penjual bertanya padaku kenapa aku menangis. Saya menjawab tidak apa- apa pak. Saya hanya terharu dengan kebaikan bapak kepada saya yang tidak bapak kenal. Tidak seperti ibu ku yang kejam.
Penjual duduk di sebelah ku sambil menghela napas. Kenapa kamu berpikir begitu? coba dengar saya. Saya memberi anda satu kali makan dan mungkin kelak saya tidak bisa memberi lagi dan anda merasa begitu, lalu bagaimana dengan ibu anda yang sedari kecil merawat, dan membesarkan anda hingga sekarang. Aku terdiam setelah mendengar kata-kata itu. Aku mengucapkan terima kasih untuk makanan yang belum sempat aku makan, tapi aku harus segera pulang.
"Maafkan aku mah, aku tau aku salah".
Dalam kehidupan, terkadang kita lebih mudah untuk menghargai tindakan yang kecil yang baru saja sekali di rasakan. Dari pada menghargai tindakan seseorang yang sudah membentuk jiwa raga kita untuk masa depan yang lebih baik.
Orang tua tidak mengharapkan untuk kita mengembalikan waktu dan tenaga yang telah diberikannya ke pada kita...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar